UAS PROFESI JURNALISTIK 6A : PENCEGAHAN WABAH PMK YANG SEMAKIN MERAJALELA
Pencegahan Wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) yang Semakin Merajalela
Oleh: Yogi Arga Jalu Pratama
Sukoharjo – Wabah PMK di daerah sukoharjo sangatlah meningkat dari awal munculnya wabah tersebut. Wabah PMK sendiri yaitu penyakit mulut dan kuku yang sangat menular, wabah ini menyerang hewan yang memiliki kuku terutama pada sapi. Di Kabupaten Sukoharjo wabah ini sudah sampai ke peternak plosok desa dan setatusnya siaga atau gawat. Diwilayah kabupaten sukoharjo yang paling banyak terpapar yaitu Kecamatan Polokarto, dikecamatan polokarto sangat banyak sekali peternak yang sapinya terpapar PMK (Penyakit Mulut dan Kuku).
Diwilayah Polokarto yang paling banyak terpapar virus ini yaitu ditempat Bapak Yono, Pak Yono memiliki sapi 75 ekor yang nantinya akan dijual pada saat hari raya idul adha, tetapi takdir berkata lain. Sapi yang dipeliharanya 80% terpapar virus PMK tersebut. Dari 75 ekor kini hanya tersisa 15 ekor saja karena tumbang terjangkit virus PMK. “Iya sapi yang saya rawat yang terjangkit PMK dan ada sekitar 80% yang terjangkit dan kini hanya tinggal 15 ekor yang tersisa” Jelas Pak Yono sambil menahan tangis.
Sampai saat ini penyakit PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) tersebut belum ada obatnya dan penyebaranya sangat cepat sekali. Sapi yang terkena virus PMK tersebut nantinya akan timbul gejala seperti mulutnya mengeluarkan air liur yang berlebihan dan berbusa, retaknya pada kuku sapi tersebut dan badan sapi akan terasa panas. Dengan munculnya gejala tersebut sapi sudah termasuk positif virus PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) dan sapi akan mengalami pincang pada kaki dan lemas, biasanya sapi yang terjangkit virus PMK tidak akan bertahan lama dan pada akhirnya tidak kuat jalan dan akan mengalami pencopotan kuku.
Didaerah Polokarto sendiri sebetulnya mayoritas peternak sapi, sapinya sudah terpapar PMK semua. Salah satunya dikandang Bapak Kuncoro, Pak Kuncoro memelihara sapi untuk disembelih dijual dagingnya dan menjual sapi untuk qurban. Pada tahun 2022 ini ada banyak sapi yang terpapar virus PMK ini. Sapi yang terpapar PMK ini tiba-tiba tidak bisa berjalan dan pada akhirnya dipotong paksa. Sapi yang terkena PMK ini dagingnya sangat berbeda dengan sapi yang sehat, daging sapi yang terkena PMK akan lebih panas dan kaku dibanding dengan daging sapi yang sehat. “Sapi yang terjangkit PMK memiliki daging yang sangat berbeda dengan sapi sehat pada umumnya dan dengan adanya sapi yang tepar karena virus ini saya semakin takut untuk memelihara sapi yang berjumlah banya” Jelas Pak Kuncoro. Penyakit PMK ini karena belum ada obat penangkalnya maka semakin banyak sapi yang terpapar virus ini.
Karena belum ada obatnya, para peternak mencoba menangkal atau mencegah virus ini dengan obat-obatan tradisional. Obat-obatan tradisional tersebut berupa telur, gula merah, jahe, kencur, kayu manis, sere, kemudian semua bahan tersebut direbus dan diambil airnya untuk dikasihkan kesapi. Menurut Bapak Kuncoro “Sapi yang diberi obat-obatan tradisional ini khususnya sapi-sapi yang terpapar virus PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) hari demi hari semakin membaik”. Selain diberi obat-obatan tradisional para peternak juga menjaga kebersihan kandang. Setiap pagi dan sore para peternak selalu membersihkan kandang. Selain itu pencegahan virus PMK juga bisa dicegah dengan memberikan vitamin-vitamin dan selalu membersihkan kuku supaya tidak kotor dan terjangkit virus PMK tersebut.
Adanya virus PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) ini menyebabkan para peternak mengalami kerugian yang sangat berdampak. Sapi yang terkena PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) harga jualnya bisa menurun hingga 50% dari harga jual sebelum adanya penyakit PMK (Penyakit Mulut dan Kuku). Selain itu karena adanya penyakit PMK ini pasar hewan di kabupaten sukoharjo tutup sementara, dengan tutupnya pasar sapi ini dimaksudkan agar virus PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) tidak semakin menyebar luas diwilayah sukoharjo.


Komentar
Posting Komentar